Pada tahun 1987, Kohama et al. berhasil mengisolasi dan mengidentifikasi γ-aminobutyric
acid (GABA) dan asetilkolin klorida dari kultur Monascus pilosus IFO4520,
yang memiliki sifat hipotensif. Konsumsi beras yang difermentasi Monascus, ekstraknya dan produk-produk
olahan yang diberi angkak beras (misalnya roti, miso dan kecap) dapat menurunkan
tekanan darah pada tikus yang dikondisikan hipertensi (Tsuji et al., 1992;
1993). Hasil tersebut
diperkuat oleh hasil penelitian Hsieh dan Tai (2003) yang menggunakan ekstrak dari kultur Monascus purpureus M9011 yang mengandung GABA, diketahui bahwa ekstrak tersebut memiliki aktivitas antihipertensi pada model tikus yang dikondisikan hipertensi dengan induksi fruktosa. Pemberian ekstrak yang mengandung 1 mg/kg/hari mampu menurunkan tekanan darah tinggi menjadi normal. Kuba et al. (2009) meneliti aktivitas penghambatan ACE (Angiotensin Converting Enzyme) dari beras yang difermentasi dengan Monascus. Dari 24 kultur Monascus yang diteliti, Monascus purpureus IFO 4489 merupakan kultur yang paling efektif. Pada penelitian tersebut juga diketahui bahwa komponen yang berperan dalam penghambatan ACE adalah peptida-peptida sederhana. Penelitian Hsu et al (2012) menunjukkan bahwa monascin dan ankaflavin memiliki aktivitas antihipertensi.
diperkuat oleh hasil penelitian Hsieh dan Tai (2003) yang menggunakan ekstrak dari kultur Monascus purpureus M9011 yang mengandung GABA, diketahui bahwa ekstrak tersebut memiliki aktivitas antihipertensi pada model tikus yang dikondisikan hipertensi dengan induksi fruktosa. Pemberian ekstrak yang mengandung 1 mg/kg/hari mampu menurunkan tekanan darah tinggi menjadi normal. Kuba et al. (2009) meneliti aktivitas penghambatan ACE (Angiotensin Converting Enzyme) dari beras yang difermentasi dengan Monascus. Dari 24 kultur Monascus yang diteliti, Monascus purpureus IFO 4489 merupakan kultur yang paling efektif. Pada penelitian tersebut juga diketahui bahwa komponen yang berperan dalam penghambatan ACE adalah peptida-peptida sederhana. Penelitian Hsu et al (2012) menunjukkan bahwa monascin dan ankaflavin memiliki aktivitas antihipertensi.
Selain beras, kedelai yang difermentasi dengan Monascus juga diketahui memiliki aktivitas penghambatan ACE (Pyo
and Lee, 2007). Air, n-butanol, etil asetat dan etanol 50% digunakan untuk
ekstraksi produk tersebut. Ekstrak dengan pelarut air memilki aktivitas
penghambatan ACE tertinggi dengan nilai IC50 sebesar 291,4 μg/mL. Pada
penelitian lebih lanjut ditemukan terdapat 3 fraksi dalam ekstrak tersebut yang
masing-masing memiliki berat molekul 1-3; 3-5 dan 5-8 kDa. Fraksi 1-3 kDa yang
tersusun dari 2 sampai 7 asam amino memiliki aktivitas penghambatan tertinggi.
Semakin lama fermentasi hingga 20 hari, aktivitas penghambatan ACE juga semakin
tinggi. Hasil yang sama juga ditemukan oleh Kuba et al. (2005) yang melaporkan
bahwa semakin lama hidrolisis protein kedelai dengan proteinase asam dari Monascus purpureus, semakin tinggi pula
aktivitas penghambatannya terhadap ACE. Sebelumnya kelompok peneliti ini
menemukan bahwa tofuyo, produk fermentasi kedelai, mampu menurunkan tekanan
darah pada tikus yang dikondisikan hipertensi. Konsumsi tofuyo diberikan selama
6 minggu menghasilkan tekanan darah sistolik lebih rendah (199.2 ± 4.4 mmHg)
daripada kontrol (207.6 ± 4.4 mmHg). Pada produk tersebut juga ditemukan GABA.
Produk fermentasi Monascus
lainnya yaitu dengan media dioscorea (Dioscorea
batatas) juga memiliki aktivitas antihipertensi (Wu et al., 2009). Produk
tersebut diberikan dalam jumlah lebih sedikit yaitu 0,2 – 0,25% dibandingkan
dengan penelitian lain yang menggunakan angkak beras sebesar 0,5% dan 0,3%
(Tsuji et al., 1992; 1993). Angkak dioscorea memiliki efek penurunan tekanan
darah sistolik lebih besar (27 mmHg) daripada angkak beras (15-25 mmHg). Angkak
dioscorea juga memiliki aktivitas penghambatan ACE lebih tinggi daripada angkak
beras.
Berdasarkan penelitian-penelitian di atas, berbagai
produk fermentasi Monascus memiliki
aktivitas antihipertensi karena mengandung GABA, asetilkolin, peptida-peptida
sederhana, monascin dan ankaflavin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar