Makanan dan minuman

Minggu, 08 Desember 2013

Aktivitas antihipertensi dari produk fermentasi Monascus


Pada tahun 1987, Kohama et al. berhasil mengisolasi dan mengidentifikasi γ-aminobutyric acid (GABA) dan asetilkolin klorida dari kultur Monascus pilosus IFO4520, yang memiliki sifat hipotensif. Konsumsi beras yang difermentasi Monascus, ekstraknya dan produk-produk olahan yang diberi angkak beras (misalnya roti, miso dan kecap) dapat menurunkan tekanan darah pada tikus yang dikondisikan hipertensi (Tsuji et al., 1992; 1993). Hasil tersebut
diperkuat oleh hasil penelitian Hsieh dan Tai (2003) yang menggunakan ekstrak dari kultur Monascus purpureus M9011 yang mengandung GABA,  diketahui bahwa ekstrak tersebut memiliki aktivitas antihipertensi pada model tikus yang dikondisikan hipertensi dengan induksi fruktosa. Pemberian ekstrak yang mengandung 1 mg/kg/hari mampu menurunkan tekanan darah tinggi menjadi normal. Kuba et al. (2009) meneliti aktivitas penghambatan ACE (Angiotensin Converting Enzyme) dari beras yang difermentasi dengan Monascus. Dari 24 kultur Monascus yang diteliti,  Monascus purpureus IFO 4489 merupakan kultur yang paling efektif. Pada penelitian tersebut juga diketahui bahwa komponen yang berperan dalam penghambatan ACE adalah peptida-peptida sederhana. Penelitian Hsu et al (2012) menunjukkan bahwa monascin dan ankaflavin memiliki aktivitas antihipertensi.

Selain beras, kedelai yang difermentasi dengan Monascus juga diketahui memiliki aktivitas penghambatan ACE (Pyo and Lee, 2007). Air, n-butanol, etil asetat dan etanol 50% digunakan untuk ekstraksi produk tersebut. Ekstrak dengan pelarut air memilki aktivitas penghambatan ACE tertinggi dengan nilai IC50 sebesar 291,4 μg/mL. Pada penelitian lebih lanjut ditemukan terdapat 3 fraksi dalam ekstrak tersebut yang masing-masing memiliki berat molekul 1-3; 3-5 dan 5-8 kDa. Fraksi 1-3 kDa yang tersusun dari 2 sampai 7 asam amino memiliki aktivitas penghambatan tertinggi. Semakin lama fermentasi hingga 20 hari, aktivitas penghambatan ACE juga semakin tinggi. Hasil yang sama juga ditemukan oleh Kuba et al. (2005) yang melaporkan bahwa semakin lama hidrolisis protein kedelai dengan proteinase asam dari Monascus purpureus, semakin tinggi pula aktivitas penghambatannya terhadap ACE. Sebelumnya kelompok peneliti ini menemukan bahwa tofuyo, produk fermentasi kedelai, mampu menurunkan tekanan darah pada tikus yang dikondisikan hipertensi. Konsumsi tofuyo diberikan selama 6 minggu menghasilkan tekanan darah sistolik lebih rendah (199.2 ± 4.4 mmHg) daripada kontrol (207.6 ± 4.4 mmHg). Pada produk tersebut juga ditemukan GABA.

Produk fermentasi Monascus lainnya yaitu dengan media dioscorea (Dioscorea batatas) juga memiliki aktivitas antihipertensi (Wu et al., 2009). Produk tersebut diberikan dalam jumlah lebih sedikit yaitu 0,2 – 0,25% dibandingkan dengan penelitian lain yang menggunakan angkak beras sebesar 0,5% dan 0,3% (Tsuji et al., 1992; 1993). Angkak dioscorea memiliki efek penurunan tekanan darah sistolik lebih besar (27 mmHg) daripada angkak beras (15-25 mmHg). Angkak dioscorea juga memiliki aktivitas penghambatan ACE lebih tinggi daripada angkak beras. 

Berdasarkan penelitian-penelitian di atas, berbagai produk fermentasi Monascus memiliki aktivitas antihipertensi karena mengandung GABA, asetilkolin, peptida-peptida sederhana, monascin dan ankaflavin.

Tidak ada komentar: