Makanan dan minuman

Jumat, 22 November 2013

Aktivitas antioksidan angkak (produk fermentasi Monascus)



Akhir-akhir ini semakin banyak dikembangkan pangan fungsional atau suplemen sumber antioksidan sebagai alternatif untuk mencegah dan mengatasi masalah stres oksidatif. Antioksidan merupakan senyawa yang mampu mencegah reaksi oksidasi melalui penangkalan radikal bebas atau menghambat jalannya reaksi oksidasi. Angkak (produk fermentasi Monascus) telah digunakan secara tradisional oleh penduduk di negara-negara Asia sebagai makanan dan obat. Secara tradisional,
media yang digunakan adalah beras kukus. Selama fermentasi, kapang Monascus sp. menghasilkan berbagai metabolit penting. Selain pigmen, kapang Monascus sp. menghasilkan monacolin K, monascin, asam dimerumat dan lain-lain yang memberikan efek positif  untuk kesehatan. Penelitian tentang aktivitas antioksidan produk fermentasi Monascus pertama kali dilakukan oleh Aniya et al. (1999), yang melakukan skrining terhadap 40 spesies kapang, 31 spesies Monascus, 8 spesies Aspergillus dan 1 spesies Rhizopus. Dari 40 kapang tersebut, 13 spesies Monascus dan 3 spesies Aspergillus memiliki aktivitas penghambatan terhadap radikal DPPH lebih dari 40% dan ditemukan bahwa Monascus anka memiliki aktivitas tertinggi. Dari penelitian selanjutnya, ditemukan bahwa senyawa yang berperan sebagai antioksidan adalah asam dimerumat (Aniya et al., 2000). Selain asam dimerumat, peneliti lain menemukan bahwa senyawa-senyawa lain juga berperan dalam aktivitas antioksidasi yaitu dihidromonakolin-MV, asam γ-aminobutirat (GABA), ankaflavin, dan monascin (Dhale et al., 2007).  Lee, Yang dan Mau (2008; 2009) melaporkan bahwa peningkatan aktivitas antioksidan dari kedelai yang difermentasi dengan Monascus terjadi karena isoflavon berubah dari glikosida menjadi aglikon selama fermentasi. Selain itu, diketahui bahwa total fenol berperan dalam aktivitas antioksidan tersebut, yang terlihat dari hasil analisa korelasi yaitu korelasi dengan kekuatan reduksi ion feri (r=0,793), kemampuan penangkapan radikal DPPH (r=0,939) dan kemampuan pengkelatan ion besi (r=0,822).
 
Referensi:
 
Aniya, Y, Yokomakura, T, Yonamine, M, Shimada, K, Nagamine, T, Shimabukuro, M, and Gibo, H, 1999, Screening of antioxidant action of various molds and protection of Monascus anka against experimentally induced liver injuries of rats, General Pharmacology 32, 225-231

Aniya Y, Ohtani II, Higa T, Miyagi C, Gibo H, Shimabukuro M, Nakanishi H, and Taira J, 2000, Dimerumic acid as an antioxidant of the mold, Monascus anka, Free Radical Biology and Medicine 28(6), 999-1004


Dhale, MA, Divakar, S, Kumar, U, and Vijayalakshmi, G, 2007, Isolation and characterization of dihydromonacolin-MV from Monascus purpureus for antioxidant properties, Applied Microbiology and Biotechnology 73, 1197–1202


Lee, YL, Yang, JH, and Mau, JL, 2008, Antioxidant properties of water extracts from Monascus fermented soybeans, Food Chemistry 106, 1128–1137

Lee, YL, Yang, JH, and Mau, JL, 2009, Antioxidant properties of ethanolic and methanolic extracts from Monascus-fermented soybeans, Journal of Food Biochemistry 33, 707–727






Tidak ada komentar: